Kenali Penyebab Munculnya Budaya Kerja Tidak Sehat Hingga Karyawan Resign

Toxic-Work-Culture

Di era kerja yang dinamis saat ini, mengenali dan memahami budaya kerja yang tidak sehat atau dikenal dengan istilah toxic work culture adalah kunci untuk memahami mengapa banyak karyawan memilih untuk meninggalkan pekerjaannya. Budaya kerja yang tidak sehat dapat menjadi faktor utama karyawan dalam keputusan meninggalkan pekerjaan, sehingga menciptakan lingkungan yang tidak hanya menyulitkan tetapi juga merugikan kesehatan dan produktivitas karyawan. Dalam artikel ini, akan menjabarkan tipe-tipe atau perbedaan generasi di Indonesia yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya budaya kerja yang tidak sehat, kemudian memahami dan mengidentifikasi ciri-ciri perusahaan yang memiliki budaya kerja tidak sehat.  Dengan memahami aspek-aspek tersebut lebih dalam, kita dapat mencegah dan mengambil langkah proaktif untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan produktif, sekaligus menjaga kebahagiaan dan loyalitas karyawan. Berikut pembahasan seputar tipe-tipe generasi di Indonesia yang dapat menjadi salah satu faktor munculnya budaya kerja yang tidak sehat atau bahkan membuat karyawan resign.

Tipe-Tipe Generasi di Indonesia

Tipe-Tipe Generasi di Indonesia

Dapat memungkinkan penyebab adanya budaya kerja yang tidak sehat disebabkan karena adanya perbedaan generasi di tempat bekerja. Dalam artikel ini pun akan membahas tipe-tipe generasi di Indonesia. Berikut pemaparan sensus penduduk 2020 yang mencatat total populasi indonesia.

gen

Sumber: Katadata

Belakangan ini sebutan Generasi Milenial, Gen-X atau Gen-Z sering sekali terdengar, apa sih arti sebutan itu ? Yuks kita bahas sedikit mengenai ini. Istilah Milenial, Generasi X, dan Generasi Z mengacu pada kelompok generasi berdasarkan masa lahirnya serta karakteristik sosial, ekonomi, dan teknologi yang mempengaruhi pengalaman hidup mereka. Berikut penjelasan singkat masing-masing generasi.

Pre-Boomer

Generasi yang lahir sebelum tahun 1945, saat dunia sedang mengalami krisis global. Di Indonesia, masa ini merupakan masa sebelum kemerdekaan. Indonesia masih menjadi koloni negara lain. Jadi generasi pra-boomer berpikiran keras karena mereka hidup di masa ketika perekonomian dunia sedang berjuang karena  perang. Dalam konteks ini, generasi pre-boomer mempunyai jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab yang tinggi  Memiliki rasa cinta tanah air yang tidak dapat dipungkiri Kurangnya keberanian mengemukakan pendapat karena sangat terbatasnya kebebasan berpendapat  Memiliki banyak perbedaan pengalaman yang mencakup berbagai era yang berbeda Mematuhi hukum dan kewajiban Sangat berhati-hati dan bijaksana dalam membelanjakan

Baby Boomer

Generasi yang saat ini yang berusia antara 56 dan 74 tahun (lahir 1946-1964). Kita berbicara tentang generasi baby boom akibat ledakan angka kelahiran setelah Perang Dunia II. Generasi baby boomer dikenal sangat kompetitif karena hidup di era dimana kesempatan kerja sangat sedikit.Ciri-ciri generasi ini berkomitmen mandiri kompetitif memiliki kepribadian yang matang karena ditempa oleh keadaan  sulit, serta memelihara adat istiadat dan cenderung kolot, mereka cenderung tidak suka dikritik, dan bekerja keras atau pantang menyerah

Gen-X

Rentang Kelahiran generasi sekitar pertengahan 1960-an hingga awal 1980-an. Karakteristik Generasi X sering dianggap sebagai generasi yang mengalami peralihan dari dunia analog ke dunia digital. Mereka tumbuh dalam era teknologi yang berkembang pesat, seperti komputer dan internet.

Generasi Milenial

Rentang Kelahiran nya mulai dari awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an atau awal 2000-an, tergantung pada definisi yang digunakan. Terkait karakteristik milenial sering diidentifikasi sebagai generasi yang tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi digital dan internet. Mereka cenderung menjadi generasi yang terhubung secara online dan sangat mempengaruhi oleh perkembangan media sosial.

Gen-Z

Rentang Kelahiran untuk generasi ini yaitu 1990-an hingga pertengahan 2010-an, meskipun batas akhirnya bisa bervariasi. Adapun karakteristik generasi Z adalah generasi yang tumbuh dalam era teknologi yang lebih canggih. Mereka sering dianggap sebagai generasi yang lebih terampil dalam menggunakan teknologi dan terlibat aktif dalam media sosial. Mereka juga sering disebut sebagai “digital natives”.

Baca juga : Intip 10 Pertanyaan dan Jawaban Saat Interview Kerja

Post Gen Z
Rentang kelahiran setelah tahun 2012 (perkiraan). Karakteristik utama meskipun belum ada, mereka diidentifikasi sebagai kelompok yang tumbuh dengan teknologi digital dan konektivitas global yang tinggi. Mereka cenderung memiliki akses luas terhadap informasi, lebih terbiasa dengan media sosial, dan memiliki pandangan yang unik tentang keberagaman dan inklusivitas.

Setelah menjabarkan tipe-tipe generasi di atas maka pembahasan selanjutnya yang akan dijabarkan di dalam artikel ini yaitu seputar mengenal dan memahami terkait budaya kerja tidak sehat atau toxic work culture kemudian dilanjut dengan penjabaran ciri-ciri perusahaan yang memiliki budaya kerja tidak sehat.

Apa itu Budaya Kerja Tidak Sehat atau Toxic Work Culture?

Apa itu Budaya Kerja Tidak Sehat atau Toxic Work Culture

Penulis Hyacinth mengatakan bahwa Toxic Work Culture adalah kumpulan dari beberapa faktor dari kombinasi kepemimpinan yang buruk dan individu yang melestarikan budaya tersebut. Budaya kerja di perusahaan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi psikologis pekerja untuk menghasilkan performa maupun kinerja yang maksimal. Tingkat depresi maupun stress yang dialami adalah salah satu akibat dari Toxic Work Culture. Jika memungkinkan, sebelum apply ke perusahaan sebaiknya mencari informasi terlebih dahulu culture perusahaan tersebut.

Ciri Perusahaan Memiliki Budaya Kerja Tidak Sehat Atau Toxic Work Culture

Ciri Perusahaan Memiliki Budaya Kerja Tidak Sehat

1. Persaingan Tidak Sehat

Persaingan dunia kerja saat ini sangat ketat karena banyaknya orang-orang bertalenta yang lebih berpengalaman, lebih muda, lebih tua, lebih agile dan tech-savvy. Dalam situasi seperti ini, seseorang harus mempunyai keunggulan untuk terus bertahan dan bersaing.  Seringkali timbul konflik  antar pegawai karena persaingan dan persaingan untuk dihargai oleh atasan, bahkan menggunakan cara-cara yang buruk dan tidak etis untuk membedakan dirinya dengan pegawai lain.  Mencuri ide, menjelek-jelekkan rekan kerja, memaksakan pekerjaan, mengalihkan tanggung jawab atau menyalahkan, atau bahkan menyenangkan atasan dengan cara yang tidak etis adalah contoh persaingan tidak sehat.  Semoga hal ini tidak terjadi di lingkungan kerja Anda.

2. Tidak ada Kerjasama Tim

Apabila bekerja secara individu, tidak adanya kerja sama kelompok untuk saling mendukung dan saling mendukung dapat menimbulkan kebosanan dalam bekerja sehingga bentuk kerja menjadi tidak maksimal. Setiap karyawan menonjolkan keegoisannya hanya demi pekerjaannya di mata atasannya. Lingkungan kerja seperti ini mau tidak mau menimbulkan komunikasi yang buruk, kesulitan berdiskusi, kurang menghargai pendapat rekan kerja, perasaan tidak nyaman dalam bekerja bahkan diperlakukan tidak adil. Ini tandanya budaya kerja perusahaan Anda kurang mendukung karyawan.

3. Pekerjaan dan Kehidupan yang Tidak Seimbang

Pekerjaan yang tumpang tindih dan seringnya lembur pada malam hari dan hari libur mencerminkan lingkungan kerja yang beracun.  Jika dibiarkan akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan Anda, seperti stres, depresi, bahkan penyakit yang baru muncul. Ingatlah bahwa hidup Anda bukan hanya soal pekerjaan, masih banyak hal lain yang bisa Anda lakukan.

4. Takut kepada Pimpinan

Pemimpin yang terlalu tegas dan otoriter akan menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan.Karyawan tentu merasakan ketakutan dan stres dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari. Hal ini jelas merupakan lingkungan kerja yang beracun, dimana karyawan tidak diperkenankan untuk mengutarakan pendapatnya, melaporkan permasalahan yang dihadapi, khawatir melakukan kesalahan bahkan takut tiba-tiba kehilangan pekerjaan jika melakukan kesalahan. Berkurangnya retensi dan loyalitas karyawan dapat disebabkan oleh budaya kerja seperti ini.

5. Sistem Kerja yang Tidak Jelas

Pembagian tugas dan tanggung jawab sering  berubah atau bahkan bertambah. Hanya sedikit karyawan yang bekerja dengan cara yang memungkinkan mereka menangani berbagai tugas dan tanggung jawab. Seringkali perusahaan memberikan pekerjaan kepada karyawannya di luar jam kerja tanpa memperhitungkan upah lembur,  hak liburan tambahan, atau kenaikan gaji. Sistem kerja yang tidak jelas dapat menurunkan kinerja karyawan.

6. Tidak Berkembang Dalam Hal Jabatan dan Pendapatannya.

Lingkungan kerja dimana atasan dan atasan tidak mau membagi pengetahuan, keterampilan atau pengalamannya sehingga tidak ada pengembangan potensi, keterampilan dan kemampuan pribadi. Pekerjaan yang dilakukan hanya bersifat rutin sehingga tidak ada kenaikan jabatan dan gaji. Situasi umum lainnya adalah pekerjaan  menumpuk dan sering kali diperlukan lembur tetapi tidak ada imbalan atau kenaikan gaji.  Sedih bukan jika Anda bekerja keras namun tidak mendapatkan apresiasi yang layak?  Pekerjaan harus dilakukan dan dievaluasi secara profesional, bukan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara sukarela.

7. Tingginya Tingkat Turnover Karyawan

Salah satu tanda yang paling terlihat adalah banyaknya karyawan yang keluar dalam waktu singkat. Turnover karyawan yang tinggi tentunya akan berdampak buruk terhadap operasional dan biaya yang  dikeluarkan perusahaan, bahkan akan membuat karyawan lainnya merasa tidak nyaman.

Kesimpulan

Kesimpulannya, artikel ini menunjukkan bahwa perbedaan generasi berperan penting dalam membentuk budaya kerja, yang  dapat mempengaruhi kinerja karyawan selama di kantor.

 Budaya kerja yang tidak sehat seringkali diakibatkan oleh kesalahpahaman dan ketidaksesuaian antara nilai-nilai, harapan, dan cara kerja generasi yang berbeda.

 Generasi Pra-Boomer, Baby Boomer, dan Post Z memiliki perspektif unik terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja. Perbedaan  preferensi komunikasi, cara menangani konflik, dan sikap terhadap keseimbangan kehidupan kerja dapat menciptakan ketegangan yang menumbuhkan budaya kerja yang tidak sehat. Perbedaan tersebut dapat menimbulkan kinerja  yang pada akhirnya menyebabkan keputusan mereka untuk berhenti atau resign.

 Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mengenali dan memahami perbedaan generasi ini dan menerapkan strategi mulai dari saling respect satu sama lain, berkomunikasi  efektif, dan membangun tim kerja yang solid. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang seimbang, mendukung pengembangan profesional setiap generasi, dan menghindari budaya kerja yang tidak sehat. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai dinamika antargenerasi adalah kunci untuk membangun organisasi yang dinamis, adaptif, dan berkelanjutan.

Perhatikan lingkungan sekitar anda, jika anda mengalami Toxic seperti uraian di atas, cepatlah cari kesempatan lain yang lebih baik. Coba kunjungi dan gunakan job portal “Snap.Careers” untuk mencari peluang baru.

Social Media Marketing | + posts

Hello my name is Binar, I'm graduated in Industrial & Organizational Psychology. I'm currently learning about Social Media Marketing and Copywriting. and I kinda loved that!

Hopefully through this blog. We can share and learn together✨🚀

Scroll to Top